MIM Masyarakat Indonesia Membangun, Al-Zaytun, Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian
TakBoleh Tinggalkan Generasi Lemah. Firman Allah, Quran surat an-Nisa ayat 9: "Hendaklah ada rasa takut di antara kamu, pada diri kamu, seandainya meninggalkan anak keturunan generasi penerus yang lemah dalam banyak hal, kesejahteraan dan lainnya, karena itu bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah berkata benar".
Jangansampai meninggalkan keturunan atau generasi yang lemah. Ulama besar Imam Nawawi menjelaskan makna dari surat An Nisa ayat 9 tentang makna Dzurriyatan dhi'afan (keturunan yang lemah). Yang perlu dicemaskan orang tua, yaitu jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah dalam hal ekonomi, ilmu pengetahuan, keagamaan dan akhlaknya.
Berikutini adalah orang-orang lemah yang harus diperhatikan haknya. 1. Anak yatim. Anak yatim ialah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya saat dia belum balig. Seorang anak sejatinya membutuhkan belaian kasih sayang orang tua. Namun, dia harus mengalami kenyataan pahit dengan kematian bapaknya.
GubernurSumbar Mahyeldi Ansharullah dalam khutbahnya mengingatkan orang tua jangan meninggalkan warisan berupa generasi (anak cucu) yang lemah. (Foto : nov) AGAM, Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah melaksanakan Safari Ramadan 1442 H di Kabupaten Agam Masjid Baiturrahman Lasi disambut langsung oleh warga Lasi
BERITA Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir mengingatkan, masyarakat agar jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah. Hal ini, bisa masyarakat dengan mencegah stunting sejak anak lahir. Bahkan, jauh sebelumnya saat menuju jenjang perkawinan.
IuHPAF. Umat Islam diperintahkan Allah menjadi umat terbaik khairu ummah. Karena itu, ciri khairu ummah berupa karakter unggul dan kuat terus dipesankan agar menjadi perhatian setiap muslim. Terkait hal ini, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Syamsul Hidayat menerangkan bahwa Allah berpesan secara khusus di dalam Surat An Nisa ayat 9 yang artinya, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” “Allah mengingatkan kaum muslimin agar kita berwaspada kalau meninggalkan generasi yang lemah. Mafhumnya adalah kita ini harus meninggalkan keturunan yang kuat,” jelas Syamsul Hidayat di kanal Youtube Majelis Tabligh Muhammadiyah, Ahad 3/4. Keturunan yang lemah bisa dilihat dari berbagai aspek, bisa dari lemah iman, lemah ilmu, dan bisa dari aspek lemah ekonomi. “Jadi, jangan sampai kita meninggalkan generasi penerus itu generasi yang lemah iman, lemah taqwa, dan itu semua ada kaitanya dengan ilmu, jangan sampai lemah ilmu juga,” jelas Syamsul. “Nah ilmu ini bisa ilmu yang bersifat pembinaan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dan juga ilmu ketrampilan hidup,” imbuh Syamsul. Perhatian terhadap generasi yang kuat menurutnya juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad Saw melalui hadis yang artinya, “mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” “Bulan Ramadhan ini, mari jadikan momentum untuk menanamkan nilai-nilai keimanan dan juga menanamkan ilmu ketrampilan hidup, agar generasi kita kuat,” tegas Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta ini. [roni] Tonton Selengkapnya
Sumber QS.[4]. An Nisaa 9 Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Kajian Anak adalah amanah, maka para orangtua harus bertanggungjawab penuh untuk mendidiknya, membimbingnya, dan mengarahkannya agar tidak menjadi anak-anak yang lemah. Generasi yang kuat lebih senangi oleh Allah dari pada generasi yang lemah. Untuk menjadikan anak-anak menjadi kuat caranya melalui pengajaran, pendidikan, dan pelatihan. Ajari anak-anak tentang ilmu agama, didiklah agar bermoral dan biasakanlah agar tidak canggung, ahli dan mahir. Kirimkanlah mereka ke lembaga yang patut untuk dipercaya. Bekali ilmu agama, ilmu memanah, berenang dan berkuda. Aplikasi ilmu agama adalah adil saat memimpin, tidak korupsi saat punya kewenangan, memikirkan anak buah atau rakyatnya saat berkuasa, jujur saat bicara dan saat bertindak. Aplikasi ilmu memanah adalah siap berburu dan perang, dan di zaman sekarang bisa diterjemahkan pandai mencari nafkah yang halal dan fokus terhadap suatu tujuan. Aplikasi ilmu berenang adalah siap mengarungi kehidupan yang penuh ketidakpastian dengan badan yang sehat dan senantiasa bugar. Sedangkan aplikasi ilmu berkuda, adalah memiliki kendaraan atau cara dalam melangkah agar lebih cepat sampai tujuan. Janganlah kawatir jika kita sudah bertakwa kepada Allah semua pasti akan didapatkan jika sudah kita ikhtiarkan sesuai dengan tuntunan-Nya. Kata kunci agar anak-anak tidak lemah adalah Pendidikan Agama, Pendidikan Teknologi, dan Aplikasi di lapangan hidup sehari-hari. Wallahu a’lam bishawab. Yogyakarta, Selasa, 4 Februari 2014. Teguh Sunaryo Motivator Religi Indonesia HP 085 643 383838 . ———————————————————————————-
BOGOR – Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan pembinaan generasi penerus. Salah satunya ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Alquran, Surat An-Nisa ayat 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Menurut Guru Besar Agama Islam IPB Bogor, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, lemah yang dimaksudkan dalam ayat di atas menyangkut beberapa hal. “Yang utama adalah jangan sampai kita meninggalkan generasi penerus yang lemah akidah, ibadah, ilmu, dan ekonominya, Generasi penerus atau anak di sini, tidak hanya anak biologis, melainkan juga anak didik murid dan generasi muda Islam pada umumnya,” kata Kiai Didin saat mengisi pengajian guru-guru Sekolah Bosowa Bina Insani SBBI di Masjid Al Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat 12/7. Pertama, jangan sampai meninggalkan anak yang lemah akidahnya atau imannya. “Akidah merupakan sumber kekuatan, kenyamanan dan kebahagiaan dalam hdup. Orang yg lemah akidahnya mudah sekali terkena virus syirik dan munafik. Hidupnya mudah terombang-ambil, tidak teguh pendirian. Ia pun bisa gampang menggadaikan iman,” ujar direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun UIKA Bogor, dalam rilis SBBI yang diterima Jumat 12/7. Hal ini pun dicontohkan oleh Luqmanul Hakim saat mendidik anak-ankanya lihat QS Luqman. “Yang pertama ditekankan adalah soal akidah, yakni janganlah engkau mempersekutukan Allah’. Barulah kemudian Luqman membahas hal-hal yang lain kepada anak-anaknya,” paparnya. Kedua, jangan sampai meninggalkan anak yang lemah ibadahnya. Orang yang istiqomah dalam ibadahnya, insya Allah akan bahagia dan punya pegangan dalam hidupnya. Ia tidak mudah terintenvensi oleh orang lain. “Sebaliknya, orang yang lemah ibadahnya atau menyia-nyiakan ibadah, maka hidupnya tidak akan bahagia. Ia pun mudah diintervensi orang lain,” tuturnya. Ketiga, jangan sampai meninggalkan anak yang lemah ilmunya. “Islam sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Rasulullah menegaskan dalam salah satu hadisnya, Tidak ada kebaikan kecuali pada dua kelompok, yaitu orang yang mengajarkan ilmu dan orang yang mempelajari ilmu’,” ujarnya. Kiai Didin menyebutkan, dalam pendidikan ada materi, metode, dan guru. “Metode lebih baik daripada materi. Guru lebih baik daripada metode. Semangat atau spirit guru lebih baik daripada guru itu sendiri,” paparnya. Keempat, jangan meninggalkan generasi yang lemah ekonominya. “Orang tua perlu menyiapkan generasi yang kuat secara ekonomi, agar hidupnya tidak menjadi beban bagi orang lain,” ujarnya. Kiai Didin menyebutkan, sebuah hadis yang menceritakan seorang lelaki punya seorang anak perempuan. Karena sangat bersemangat bersedekah, ia berniat menyedekahkan 100 persen hartanya, tapi Nabi melarangnya. Lalu, ia berniat menyedekahkan 50 persen hartanya. Hal itu pun masih dilarang. Akhirnya ketika dia berniat menyedekahkan sepertiga hartanya, barulah Nabi mengizinkan. “Dengan demikian, orang tua tadi tidak meninggalkan generasi yang lemah secara ekonomi. Hadis ini pun menjadi dalil dalam pemberian wasiat, yakni harta yang diwasiatkan untuk disedekahkan, maksimal sepertiga dari total harta warisan,” papar KH Didin Hafidhuddin. Suka Pakai Aplikasi Paylater? Favorit Kamu yang Mana? LinkAja Paylater Shopee Paylater GoPaylater Traveloka Paylater Akulaku Paylater JULO Paylater Blibli Paylater Tidak Pakai Paylater Array [__ci_last_regenerate] => 1686813941