Tokohtasawuf pada masa ini, antara lain : Ibn Arabi Beliau memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath-Tha'I Al-Haitami Al-Andalusia. Beliau lahir di Murcia, Andalusia pada tahun 560 Hijriyah/ 1164 Masehi dan wafat pada tahun 638 Hijriyah. Ajaran tasawufnya yakni, Wahdah Al-Wujud (kesatuan wujud).
Baiklah tanpa berlama-lama sekarang mari kita simak biografi singkat dari Ibrahim bin Adham. Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Adham Mansur bin Yazid bin Djabir (Abu Ishak) al-Idjli. Dia dilahirkan di Balkh, Khurasan (daerah ini sekarang meliputi sebagian Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah).
Ibrahimbin Adham berasal dari keluarga ternama dan penguasa kawasan Balkh. Akan tetapi, ia secara tiba-tiba beralih orientasi ke dunia zuhud. Setelah bertobat, ia berangkat menuju Mekkah dan berjumpa dengan para pembesar sufi di kota ini, seperti Sufyan al-Tsauri dan Fudahil 'Iyadh.
NOZJU4. Ibrahim Ibnu Adham bin Mansur Ibnu Yazid Ibnu Jabir al-Ijli, dilahirkan di Khurasan tahun 112 H/730 M dan meninggal tahun 161 H/778 M di suatu benteng di daerah Romawi. Ia salah seorang tokoh sufi besar yang meninggalkan kehidupan duniawi, dan mengembara tanpa memiliki tempat tinggal yang tetap..Semula, Ibrahim bin Adham adalah seorang raja Balkh yang sangat luas daerah kekuasaannya. Ke manapun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buah tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakangnya. Pada suatu malam ketika ia tertidur di kamar istananya, langit-langit kamar seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Segera ia naik ke atas dan menemukan seseorang. “Apa yang kau cari di sini?” bentak Ibrahim bin Adham kepada orang itu. “Aku mencari ontaku yang hilang” jawab orang itu. “Apa anda tidak gila mencari onta dalam istanaku?” seru Ibrahim marah. “Ya seperti anda juga mencari Ttuhan di dalam kemewahan istana” jawab orang itu sambil melompat ke bawah dan kemudian tersebut amat membekas dalam diri Ibrahim dan merupakan titik awal dari perubahan pendirian dan kehidupannya. Untuk mencari ketenangan dan jawaban yang memuaskan hati dari peristiwa aneh itu, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan istana. Dengan membawa piring, gelas, selimut dan bantal untuk dirinya sendiri. Ia meninggalkan istana yang gemerlap. Beberapa mil setelah meninggalkan istana, ia melihat seorang laki-laki menimba air dengan susah payah hanya menggunakan telapak tangan. Melihat orang itu, terkesan dalam hatinya, lalu ia segera membuang cangkir yang ada di tangannya. Di tengah-tengah perjalanan ia melihat laki-laki tertidur dengan menggunakan dua tangannya sebagai bantal. Melihat orang itu, segera ia membuang bantalnya. Didalam perjalanan berikutnya, ia melihat seorang laki-laki tanpa selimut sedikitpun, maka ia membuang selimut yang ada padanya. Dengan demikian, ia pergi tanpa membawa persiapan harta sedikitpun. Ia berkelana dari satu negeri ke negeri yang lain, mencari ilmu dan meraih hikmah untuk suatu tujuan utama yaitu menemukan kebenaran yang sejati dalam rangka menuju Tuhan. Ibrahim bin Adham pernah belajar kepada Imam Abu Hanifah dan sejumlah tokoh sufi di masanya, antara lain Abu Yazid al-Busthami. Selain itu, ia hidup dan pernah bertemu dengan banyak tokoh sufi di zamannya seperti Fudhail bin Iyadh, dan Sofyan ats-Tsauri. Perjalanan dan kajian-kajian tasawufnya ia lakukan dengan intens sampai ia bertemu dengan nabi Allah, Khidir AS..Tasawuf Ibrahim bin Adham dimulai dari berbagai pertanyaan yang bersumber dari al-Quran sendiri, sebagaimana yang tampak dalam surat al-Mukminun ayat 115 “apakah engkau kira bahwa kamu, Kami jadikan percuma ? dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berlanjut dengan pertanyaan lain yang mendasar tentang makna dan hakikat hidup dan kehidupan. Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu ditemukannya dalam perjalanan panjang dan mujahadahnya yang intensif, hingga dengan tenang ia meninggalkan jabatan dan istana yang gemerlap sampai beroleh ridha yang Ibrahim bin Adam, tasawuf adalah keindahan dan kebesaran menuju kepada Kebebasan Sejati. Karena itu tasawuf bukan suatu sistem yang keras dan kaku, bukan menekan diri dan perasaan, bukan membawa hidup susah dan bukan meninggalkan fitrah. Akan tetapi, tasawuf adalah membawa manusia kepada pilihan-pilihan yang benar, hidup zuhud, berlaku adil dan penuh keutamaan dalam kehidupan yang menanjak menuju kepada kesucian diri. Dengan pilihan itulah kita meninggalkan dunia hingga kita menjadi bin Adam tidak meninggalkan suatu karya. Meskipun demikian, ia tetap berpesan agar jangan berharap untuk menemukan hikmah tanpa hidup dalam taqwa, karena hikmah mamancar dari kebersihan dan ketaqwaan.
— Bagi para ahli tasawuf Abad Pertengahan hingga kontemporer, Syekh Ibrahim bin Adham bagaikan mata air. Dia termasuk yang paling awal mengamal kan dan mengajarkan laku sufi di tengah masyarakat. Di samping itu, konsistensinya dalam zuhud menjadi ciri khas tasawuf yang datang sesudahnya. Syekh Ibrahim bin Adham 718-782 merupakan seorang sufi yang berpengaruh besar dalam sejarah Islam. Tokoh yang berdarah Arab itu lahir di Khurasan, tepatnya Kota Balkh, kini bagian dari Afghanistan. Keluarganya menetap di wilayah tersebut setelah bermigrasi dari Kufah, Irak. Ibrahim bin Adham kerap dikisahkan sebagai seorang raja atau pangeran yang memilih zuhud. Walaupun nyaris tidak ada catatan sejarah yang pasti tentang hal itu, dapatlah dikatakan bahwa sosok tersebut memiliki kehidupan yang mapan di Balkh. Setelah bertobat, ia pun menjadi seorang pengembara untuk menjauhi hiruk-pikuk duniawi. N Hanif dalam bukunya, Biographical Encyclopae dia of Sufis of South Asia1999, mengatakan, ada beragam riwayat tentang pertaubatan sang mursyid. Salah satunya, sebagaimana dituturkan Fariduddin Attar dalam Tadzkiratul Auliya, menampilkan perjumpaan antara Ibrahim dan Nabi Khidir. Dalam narasi tersebut, sosok berjulukan Abu Ishaq itu diceritakan sebagai seorang raja Khurasan. Narasi lainnya dinukil dari Abu Bakr al-Kalabadhi dalam Kitab at-Ta'aruf. Pada suatu hari, Ibrahim mengajak prajuritnya untuk berburu di hutan. Aktivitas ini dilakukannya untuk senang-senang belaka, melepas penat dari rutinitas di istana. Tanpa disadari, kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya. Ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Tanpa disadarinya, ia telah terpisah dari para pengawalnya. Seandainya kuda yang ditungganginya tidak jatuh tergelincir, barangkali Ibrahim akan tersasar lebih jauh lagi. Saat sedang berusaha bangkit, ia terkejut karena melihat seekor rusa tiba-tiba melintas di depannya. Ia pun dengan lekas menghela kudanya sembari mengarahkan tombak ke hewan tersebut. Sebelum melempar benda runcing itu, ia mendengar suara yang tertuju padanya, “Wahai Ibrahim! Bukan untuk itu kamu diciptakan. Bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Awalnya, penguasa Balkh itu enggan mengacuhkannya. Pikirnya,mungkin suara itu hanya halusinasi. Begitu hendak meraih tombaknya, tiba-tiba suara yang sama terdengar lagi. “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Ia pun menengok ke kiri dan kanan, tetapi tak seorang pun dilihatnya. “Aku berlindung kepada Allah dari godaan iblis,” ucapnya. Baca juga Mualaf Edy, Takluknya Sang Misionaris di Hadapan Surat Al Ikhlas Ia pun memacu lagi kudanya. Akan tetapi, teguran yang sama lagi-lagi terdengar. Ibrahim pun menghentikan langkahnya, Apakah ini sebuah peringatan dari-Mu, Tuhan? katanya bergumam. Putra bangsawan ini pun merasa, petunjuk Illahi telah menerangi hatinya. “Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari-hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada-Nya.” Sejak saat itu, lelaki dari Bani Bakar bin Wafil ini menekuni jalan salik. Segala kemewahan hidup ditinggalkannya.
OLEH HASANUL RIZQA Syekh Ibrahim bin Adham 718-782 merupakan seorang sufi yang berpengaruh besar dalam sejarah Islam. Tokoh yang berdarah Arab itu lahir di Khurasan, tepatnya Kota Balkh—kini bagian dari Afghanistan. Keluarganya menetap di wilayah tersebut setelah bermigrasi dari Kufah, Irak. Ibrahim bin Adham kerap dikisahkan sebagai seorang raja atau pangeran yang memilih zuhud. Walaupun nyaris tidak ada catatan sejarah yang pasti tentang hal itu, dapatlah dikatakan bahwa sosok tersebut memiliki kehidupan yang mapan di Balkh. Setelah bertobat, ia pun menjadi seorang pengembara untuk menjauhi hiruk-pikuk duniawi. N Hanif dalam bukunya, Biographical Encyclopaedia of Sufis of South Asia 1999, mengatakan, ada beragam riwayat tentang pertobatan sang mursyid. Salah satunya, sebagaimana dituturkan Fariduddin Attar dalam Tadzkiratul Auliya, menampilkan perjumpaan antara Ibrahim dan Nabi Khidir. Dalam narasi tersebut, sosok berjulukan Abu Ishaq itu diceritakan sebagai seorang raja Khurasan. Narasi lainnya dinukil dari Abu Bakr al-Kalabadhi dalam Kitab at-Ta’aruf. Pada suatu hari, Ibrahim mengajak prajuritnya untuk berburu di hutan. Aktivitas ini dilakukannya untuk senang-senang belaka, melepas penat dari rutinitas di istana. Tanpa disadarlnya, kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya, ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Tanpa disadarinya, ia telah terpisah dari para pengawalnya. Seandainya kuda yang ditungganginya tidak jatuh tergelincir, barangkali Ibrahim akan tersasar lebih jauh lagi. Saat sedang berusaha bangkit, ia terkejut karena melihat seekor rusa tiba-tiba melintas di depannya. Ia pun dengan lekas menghela kudanya sembari mengarahkan tombak ke hewan tersebut. Sebelum melempar benda runcing itu, ia mendengar suara yang tertuju padanya, “Wahai Ibrahim! Bukan untuk itu kamu diciptakan. Bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Awalnya, penguasa Balkh itu enggan mengacuhkannya. Pikirnya, mungkin suara itu hanya halusinasi. Begitu hendak meraih tombaknya, tiba-tiba suara yang sama terdengar lagi. “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Ia pun menengok ke kiri dan kanan, tetapi tak seorang pun dilihatnya. “Aku berlindung kepada Allah dari godaan Iblis,” ucapnya. Ia pun memacu lagi kudanya. Akan tetapi, teguran yang sama lagi-lagi terdengar. Ibrahim pun menghentikan langkahnya, “Apakah ini sebuah peringatan dari-Mu, Tuhan?” katanya bergumam. Putra bangsawan ini pun merasa, petunjuk Ilahi telah menerangi hatinya. “Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari-hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada-Nya.” Sejak saat itu, lelaki dari Bani Bakar bin Wafil ini menekuni jalan salik. Segala kemewahan hidup ditinggalkannya. Oase hikmah Bagi para ahli tasawuf abad pertengahan hingga kontemporer, Syekh Ibrahim bin Adham bagaikan mata air. Dia termasuk yang paling awal mengamalkan dan mengajarkan laku sufi di tengah masyarakat. Di samping itu, konsistensinya dalam zuhud menjadi ciri khas tasawuf yang datang sesudahnya. Ada banyak kisah keteladanan ulama tersebut. Misalnya, yang disampaikan Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri dalam kitabnya, Mawaizh Ushfuriyah. Suatu ketika, Syekh Ibrahim sedang duduk di sebuah tempat. Di sana, dia membuka bekal makanannya. Tanpa diduga, seekor burung gagak datang mengambil sedikit dari makanan tersebut. Lantas, hewan ini terbang menuju bukit. Karena penasaran, Ibrahim pun membuntuti burung tersebut. Dia segera membungkus makanannya, lalu menunggangi dan memacu kudanya. Dengan cepat, disusulnya hewan bersayap tadi. Akan tetapi, burung itu lebih cepat. Ibrahim pun tak lagi mengetahui ke mana hewan terbang itu mengarah. Karena jejak terakhir yang diingatnya ke arah bukit, ia memacu kudanya ke sana. Sampai di dataran tinggi itu, Ibrahim menemukan seseorang dalam kondisi terikat. Burung gagak itu ternyata ada di dekat orang tersebut. Paruhnya yang membawa makanan kemudian bergerak mendekati mulut orang malang ini. Sang burung lalu melepas makanannya. Mulut orang itu terbuka dan menelannya. Hal seperti itu terjadi dalam beberapa hari sejak pria tak dikenal itu terjerat. Pada hari keempat, Ibrahim mendekatinya, lalu membebaskannya. Lelaki itu bercerita, dirinya dalam kondisi demikian sejak disandera dan dibuang kawanan perampok. Dengan kuasa Allah, ia masih hidup dan tetap mendapatkan rezeki untuk makan melalui perantaraan burung gagak. Kisah di atas mengajarkan tentang Kemahakuasaan Allah dalam mengatur rezeki. Penghidupan setiap mahluk di jagat raya ini masing-masing telah dijamin oleh-Nya. Sungguh mustahil Sang Pencipta membiarkan makhluknya hidup tanpa rezeki. Sungguh mustahil Sang Pencipta membiarkan makhluknya hidup tanpa rezeki. Jangankan yang bebas bergerak, makhluk terikat yang geraknya terbatas, seperti yang ditemui Ibrahim bin Adham pun masih mendapatkan rezeki, tetap hidup dan mengagungkan asma Allah. Menyadari bahwa Allah telah mencukupkan rezeki tiap makhluk-Nya, itu tidak berarti seseorang dibenarkan berpangku tangan. Ibrahim bin Adham memberikan contoh tentang pentingnya ikhtiar. Walaupun hidup sederhana, dirinya tidak pernah mengemis atau meminta-minta kepada orang lain. Salik-pengembara ini tetap bekerja di daerah-daerah manapun yang disinggahinya. Di antara profesi yang pernah dijalaninya ialah buruh tani, tukang kebun, dan penjual kayu bakar. Dalam melakukan pekerjaan, Ibrahim selalu amanah. Tidak sekalipun dirinya berbuat curang. Sebab, kunci keberkahan rezeki ialah bekerja secara halal dan baik. Amanah dan warak Dalam Tadzkiratul Auliya, terdapat selayang pandang cerita yang tentang sifat amanah sang salik. Ibrahim bin Adham berkata, “Aku pernah menjadi seorang penjaga kebun. Pada suatu hari, sang pemilik kebun datang. Ia memintaku untuk mencarikan buah-buah delima yang masak. Aku pun mengambilkan untuknya sejumlah buah delima. Ternyata, buah-buahan itu rasanya masam. Maka, aku mencari lagi buah delima lainnya yang kupikir masak. Sekeranjang buah-buah ini kuberikan kepadanya. Rasanya masam juga. Majikanku berkata, Bagaimana kau ini? Sudah lama menjadi penjaga kebun, tetapi masih tak bisa juga membedakan antara delima yang masak dan masam?’ Kukatakan kepadanya, Aku ini penjaga kebun. Tugasku bukanlah memakan buah delima, apalagi mencicipi mana yang masam dan yang masak.’ Ia kemudian berkata, Dengan sikap amanah ini, engkau pasti Ibrahim bin Adham.’ Setelah itu, aku pergi meninggalkan kebun tersebut.” Aku ini penjaga kebun. Tugasku bukanlah memakan buah delima, apalagi mencicipi mana yang masam dan yang masak Kisah lainnya menggambarkan kecermatan Syekh Ibrahim dalam hidup. Ia selalu mengutamakan warak, yakni menjauhi perkara-perkara yang syubhat, apalagi yang haram. Apabila barang yang dimiliki atau dikonsumsinya belum jelas betul status kehalalannya, pantang baginya untuk menikmati barang tersebut. Pada akhir musim haji, sufi tersebut baru saja usai menunaikan rukun Islam kelima. Ia berniat melanjutkan rihlahnya ke Baitul Makdis. Ingin sekali berziarah dan beribadah di Masjid al-Aqsha. Sebelum bertolak ke Palestina, Ibrahim menyambangi sebuah pasar di pinggiran Makkah. Untuk bekal perjalanan, dirinya pun membeli sekeranjang kurma dari seorang pedagang tua di sana. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat ada sebutir kurma yang tergeletak di bawah wadah timbangan. Disangkanya, sebutir kurma kecil itu adalah bagian dari buah-buahan yang dibelinya. Usai membayar, ia pun langsung berangkat menuju al-Aqsha. Sesudah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya lelaki ini tiba di tujuan. Seperti biasa, dirinya memilih tempat ibadah di bawah atap Kubah Batu. Saat sedang berzikir, tiba-tiba ia mendengar suara percakapan dua malaikat dari arah atas. “Lihatlah, ini Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah yang doa-doanya selalu dikabulkan Allah,” kata malaikat pertama. “Namun, kini tidak lagi. Doanya tertolak karena beberapa bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang ditemukannya di dekat wadah timbangan seorang pedagang tua di Makkah,” timpal malaikat kedua. “Astaghfirullah al-azhim!” seru Ibrahim. Ia sangat terkejut, dan menyadari kesalahannya itu. Seketika, sufi ini bangkit dan bergegas pergi ke Makkah. Akhirnya, sampailah ia ke pasar yang dahulu dikunjunginya. Sayang, pedagang tua itu sudah meninggal dunia. Kini, yang menjaga toko buah tersebut adalah putranya. Setelah menjelaskan secara detail pokok persoalan, anak itu mengaku tidak mempermasalahkan buah yang telah dimakan Ibrahim. “Namun,” kata pemuda itu lagi, “Sesungguhnya, ayahku memiliki banyak anak. Jumlahnya 11 orang. Tidak hanya aku, tetapi ada juga saudara-saudaraku. Aku tidak berani mengatasnamakan mereka yang mempunyai hak waris yang sama denganku terkait dengan urusan Tuan ini.” Setelah meminta alamat mereka masing-masing, Ibrahim langsung pergi menemui para anak almarhum itu satu per satu. Walau jarak rumahnya berjauhan, selesai juga permohonan maaf Ibrahim. Mereka semua setuju untuk menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka dahulu yang termakan sang mursyid. Masyhur Hingga ke Nusantara Ada banyak kitab yang memuat kisah-kisah tentang Syekh Ibrahim bin Adham 718-782. Menurut N Hanif Biographical Encyclopaedia of Sufis of South Asia 1999, kebanyakan narasi itu tidak hanya tersebar di kawasan Arab atau Persia. Lebih lanjut, kaum Muslimin di India dan Indonesia pun menerima teks-teks tersebut. Hanif mengatakan, beberapa daerah kultural di Nusantara menjadi tempat persebaran cerita mengenai sang mursyid. Di antaranya ialah Sunda, Jawa, dan Bugis. Bagaimanapun, sambungnya, masyarakat masing-masing lokasi itu diduga mendapatkan narasi tentang Syekh Ibrahim dari orang-orang Persia, bukan Arab. Dan, kandungan kisahnya pun lebih banyak dibumbui hal-hal yang berbau rekaan. Salah satu manuskrip yang mengisahkan tentang tokoh ini ialah Hikayat Sultan Ibrahim bin Adham. Laman Perpustakaan Nasional RI mengungkapkan, kandungan naskah tersebut menceritakan sosok Sultan Ibrahim bin Adham, yakni “seorang raja Irak yang rela melepaskan takhta kerajaan karena ingin menjalankan ibadah kepada Tuhan secara khusyuk.” Teks hikayat ini dibuka dengan perkataan sebagai berikut. “Ini suatu hikayat ada seorang raja dari negeri Irak bernama Sultan Ibrahim bin Adham, wali Allah. Adapun terlalu besar kerajaannya baginda itu. Sahdan baginda itu sangat pertapa lagi masyhur serta dengan adil pemerintahnya lagi amat mengasih pada segala wazirnya dan hulubalangnya, dan kepada rakyatnya hina dena dan terlalu amat mengasih kepada segala ulama dan fakir dan miskin.” Secara keseluruhan, hikayat yang bertuliskan Arab-Melayu tersebut memuat moral dalam dua aspek sekaligus, yakni hubungan vertikal antara hamba dan Allah serta relasi horizontal antarsesama manusia. Aspek pertama meliputi persoalan-persoalan takwa dan mendahulukan perintah Allah, zuhud, ridha, serta pertobatan. Termasuk di dalamnya, kisah tentang perjuangan sang syekh untuk menghalalkan kurma yang terlanjur dimakannya. Adapun aspek kedua bertalian dengan sikap amanah dan pemimpin yang baik. Menurut Danang Susena dalam Hikayat Sultan Ibrahim Ibn Adham Suntingan Teks dan Kajian Semiotika 2015, kehidupan spiritual Syekh Ibrahim interteks dengan keyakinan yang disebarkan oleh Syekh Hasan al-Bashri 642-728. Kedua tokoh itu sama-sama generasi tabiin. Belakangan, prinsip mereka diikuti pula antara lain oleh Imam Ghazali 1058-1111. Dan, sampai kini keyakinan itu masih hidup.